Para pembaca yang mulia, semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa mencurahkan rahmat dan taufiq-Nya kepada kita semua. Sibuk dengan ritual keagamaan belum menjadi jaminan seseorang telah shalih, alim, atau ahli ketaatan. Penampilan seseorang dalam beragama hendaknya diukur sejauh mana dirinya menerapkan amal shalih yang didasari keikhlasan dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tanpa dua prinsip dasar yang harus selalu beriringan ini, maka amaliah seseorang akan menjadi sia-sia. Ia akan mendapatkan kehampaan pahala dan terseret ke arah amaliah yang jauh dari agama Islam itu sendiri.
Tentu merupakan sebuah kewajiban setiap muslim untuk beramal dalam agama Islam ini dengan mengikuti segala apa yang diperintahkan dan dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beragama yang baik dan benar bukanlah dengan dasar mengikuti amal perbuatan kebanyakan orang, bukan pula dengan mengikuti semangat yang menggebu semata atau kerana kagum dengan tokoh tertentu. Akan tetapi menjalankan agama secara baik dan benar haruslah selaras dengan landasan keikhlasan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan amalannya mengikuti apa yang telah dituntunkan oleh rasul-Nya.
Kewajiban Mengikuti Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan Mengagungkannya
Mengagungkan sunnah
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wasallam merupakan
perkara yang besar
dan agung. Yang
memerlukan bukti dan
amalan nyata dalam
kehidupan
sehari-hari.
Ironisnya keadaan
pada saat ini
justeru terjadi
sebaliknya, fenomena
yang ada pada
sebahaagian kaum
muslimin enggan
menerima,
mengabaikannya,
bahkan
mengolok-oloknya.
Padahal Allah
subhanahu wa ta’ala
berfirman (ertinya):
“Dan apa yang
diperintahkan Rasul
kepada kalian maka
lakukanlah sedang
apa yang beliau
larang darinya maka
tinggalkanlah.” (Al
Hasyr: 7)
“Barangsiapa yang
menaati Rasul
bererti ia telah
menaati Allah.” (An
Nisa’: 80)
“Dan tidaklah patut
bagi laki-laki yang
mukmin dan tidak
(pula) bagi
perempuan yang
mukminah, apabila
Allah dan Rasul-Nya
telah menetapkan
suatu ketetapan,
akan ada bagi mereka
pilihan (yang lain)
tentang urusan
mereka. Dan
barangsiapa yang
menderhakai Allah
dan Rasul-Nya, maka
sungguhlah ia telah
sesat, dengan
kesesatan yang nyata.”
(Al Ahzab: 36)
Ketiga ayat di atas
menunjukkan secara
tegas bagaimana
semestinya sikap
seorang muslim
menempatkan Sunnah
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wasallam, iaitu
wajib mengambilnya.
Hal ini merupakan
kewajiban yang tidak
ada tawar-menawar
lagi. Kemudian
menjadikan sunnah
tersebut sebagai
pedoman dalam
melangkah dan
melakukan ketaatan
kepada Allah
subhanahu wa ta’ala.
Oleh kerana itu,
Allah subhanahu wa
ta’ala menjadikan
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wasallam sebagai
penjelas Al-Qur’an
bukan sekadar
menyampaikan atau
membacakannya secara
lafazh saja,
sebagaimana dalam
firman-Nya ertinya):
“Dan Kami turunkan
kepadamu Al Qur’an
agar engkau
terangkan kepada
manusia apa yang
diturunkan kepada
mereka.” (An Nahl:
44)
Demikian pula
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
“Saya mewasiatkan
bagi kalian untuk
bertakwa kepada
Allah, mendengar dan
taat kepada pimpinan,
walaupun yang
memimpin kalian
adalah seorang budak.
Kerana sesungguhnya
barangsiapa yang
hidup sepeninggalku
ia akan melihat
perbezaan yang
banyak, maka di saat
seperti itu wajib
atas kalian bepegang
teguh dengan
Sunnahku dan Sunnah
para Al Khulafa’ Ar
Rasyidin. Gigitlah
dengan gigi-gigi
geraham kalian!
Jauhilah
perkara-perkara yang
baru (bid’ah) kerana
sesungguhnya semua
bid’ah itu sesat!” (Shahih,
HR. Ahmad, Abu Dawud
dan At Tirmidzi dari
hadits Al Irbadh bin
Sariyah radhiyallahu
‘anhu, dishahihkan
oleh Asy Syaikh Al
Albani dalam
Shahihul Jami’, no.
2549)
Barakah Mengikuti
Sunnah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wasallam
Ketahuilah! Siapa
saja dari umat
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wasallam yang
berupaya untuk
senantiasa mengikuti
dan mentaati beliau
shallallahu ‘alaihi
wasallam dengan
ikhlas serta
menjadikannya
sebagai suri
tauladan dalam
kehidupan
sehari-hari, maka
sungguh ia akan
mendapatkan sekian
banyak keutamaan
yang dijanjikan oleh
Allah subhanahu wa
ta’ala dan Rasul-Nya
shallallahu ‘alaihi
wasallam di
antaranya adalah
sebagaimana
keterangan berikut
ini:
1. Mengikuti Sunnah
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wasallam Merupakan
Sebab Diterimanya
Suatu Amalan
Telah kita ketahui
bersama bahawa dua
prinsip dasar yang
harus selalu
beriringan dalam
melandasi suatu amal
agar diterima oleh
Allah subhanahu wa
ta’ala adalah
keikhlasan dan
mengikuti sunnah
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wasallam. Sebaliknya,
apabila hilang salah
satu dari keduanya,
maka amalan itu
tidak akan diterima
oleh Allah subhanahu
wa ta’ala, dan
hendaknya kita
khawatir suatu amal
shalih yang kita
kerjakan akan
ditolak atau tidak
diterima oleh Allah
subhanahu wa ta’ala.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang
beramal dengan suatu
amalan yang tidak
pernah kami
perintahkan, maka
amalan tersebut
tertolak.” (HR.
Muslim)
Dari hadits di atas
dapat diambil
kesimpulan bahawa
salah satu keutamaan
terbesar dalam
Ittiba’us Sunnah (mengikuti
Sunnah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wasallam) adalah
diterimanya suatu
amalan.
Al Imam Ibnu Qudamah
rahimahullah berkata:
“Dalam mengikuti
Sunnah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wasallam terdapat
keberkatan dalam
mengikuti syari’at,
meraih keredhaan
Allah subhanahu wa
ta’ala, meninggikan
darjat,
mententeramkan hati,
menenangkan badan,
membuat marah
syaitan, dan
berjalan di atas
jalan yang lurus.” (Dharuratul
Ihtimam, hal. 43)
2. Mengikuti Sunnah
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wasallam Membuahkan
Persatuan Kaum
Muslimin
Para pembaca yang
mulia, setiap muslim
tentu sangat
merindukan
terwujudnya
perpaduan kaum
muslimin.
Sebagaimana yang
telah kita ketahui
bersama, bahawa
perpaduan merupakan
perkara yang diredha
dan diperintahkan
oleh Allah subhanahu
wa ta’ala, sedangkan
perpecahan merupakan
perkara yang dibenci
dan dilarang
oleh-Nya. Allah
subhanahu wa ta’ala
berfirman (ertinya):
“Dan
berpegang-teguhlah
kalian semua dengan
tali (agama) Allah,
dan janganlah kalian
bercerai-berai.”
(Ali Imran: 103)
Al Imam Al Hafizh
Ibnu Katsir
rahimahullah berkata:
“Allah telah
memerintahkan kepada
mereka (umat Islam)
untuk bersatu dan
melarang mereka dari
perpecahan. Di dalam
banyak hadits juga
terdapat larangan
dari perpecahan dan
perintah untuk
bersatu dan
berkumpul.” (Tafsir
Ibnu Katsir, 1/367)
Adapun asas bagi
perpaduan yang
diredhai dan
diperintahkan oleh
Allah subhanahu wa
ta’ala bukan
berasaskan kesukuan,
organisasi, kelompok,
daerah, parti, dan
sebagainya. Akan
tetapi asasnya
adalah: Al Qur’an
dan Sunnah
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wasallam dengan
pemahaman As-Salafush
Shalih (para
shahabat Rasulullah,
para tabi’in, dan
tabi’ut tabi’in).
Al Imam Al Qurthubi
rahimahullah ketika
menjelaskan ayat 103
surat Ali Imran di
atas menyatakan
bahwa Allah
subhanahu wa ta’ala
mewajibkan kepada
kita agar berpegang
teguh dengan
kitab-Nya (Al Qur’an)
dan sunnah nabi-Nya,
serta merujuk kepada
keduanya di saat
terjadi perselisihan.
Allah subhanahu wa
ta’ala juga
memerintahkan kepada
kita agar bersatu di
atas Al Qur’an dan
As Sunnah dalam hal
keyakinan dan amalan.
Hal ini agar kaum
muslimin bersatu dan
tidak tercerai-berai,
sehingga akan meraih
kemaslahatan dunia
dan agama, serta
selamat dari
perselisihan. (Lihat
Tafsir Al Qurthubi,
4/105)
Mengapa harus dengan
pemahaman As Salafus
Shalih (para
shahabat Rasulullah,
para tabi’in, dan
tabi’ut tabi’in)?
Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah
rahimahullah berkata:
“Sebagaimana tidak
ada generasi yang
lebih sempurna dari
generasi para
shahabat, maka tidak
ada pula kelompok
setelah mereka yang
lebih sempurna dari
para pengikut mereka.
Maka dari itu, siapa
saja yang lebih kuat
dalam mengikuti
hadits Rasulullah
dan sunnahnya, serta
jejak para shahabat,
maka ia lebih
sempurna. Kelompok
yang seperti ini
keadaannya, akan
lebih utama dalam
hal persatuan,
petunjuk, berpegang
teguh dengan tali
(agama) Allah, dan
lebih terjauhkan
dari perpecahan,
perselisihan, dan
fitnah. Dan
barangsiapa yang
menyimpang jauh dari
itu (Sunnah
Rasulullah dan jejak
para sahabat), maka
ia akan semakin jauh
dari rahmat Allah
dan semakin
terjerumus ke dalam
fitnah.” (Minhajus
Sunnah, 6/368)
3. Pahala Besar Bagi
Orang Yang Berpegang
Teguh Dengan Sunnah
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wasallam
Dari shahabat
Abdullah bin Mas’ud
radhiyallahu ‘anhu,
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
“Sesungguhnya di
belakang kalian ada
hari-hari kesabaran,
kesabaran di hari
itu seperti
menggenggam bara api,
bagi yang beramal (dengan
Sunnah Nabi) pada
saat itu akan
mendapatkan pahala
lima puluh.” Ada
seseorang yang
bertanya: “Lima
puluh dari mereka,
wahai Rasulullah?”
Rasulullah menjawab:
“Pahala lima puluh
dari kalian.” (Shahih,
HR. Abu Dawud dan At
Tirmidzi, lihat
Silsilah Ash
Shahihah, no. 494)
4. Jaminan Istiqomah
dan Hidayah Bagi
Orang Yang Berpegang
Teguh dengan Sunnah
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wasallam
Selama seseorang
berada di atas
Sunnah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wasallam, maka ia
akan tetap berada di
atas jalan istiqomah.
Sebaliknya, jika
tidak demikian,
bererti ia telah
menyimpang dari
jalan yang lurus.
Sebagaimana yang
dikatakan oleh
shahabat Abdullah
bin Umar
radhiyallahu ‘anhu:
“Manusia akan
senantiasa berada di
atas jalan yang
lurus selama mereka
mengikuti jejak Nabi.”
(HR. Al Baihaqi,
Miftahul Jannah, no.
197).
Shahabat ‘Urwah
radhiyallahu ‘anhu
berkata: “Mengikuti
sunnah-sunnah Nabi
adalah tonggak
penegak agama.” (HR.
Al Baihaqi, Miftahul
Jannah, no. 198).
Salah seorang
tabi’in bernama Ibnu
Sirin mengatakan:
“Dahulu mereka
mengatakan: selama
seseorang berada di
atas jejak Nabi,
maka ia berada di
atas jalan yang
lurus.” (HR. Al
Baihaqi, Miftahul
Jannah, no. 200)
Oleh karena itu,
Allah subhanahu wa
ta’ala berfirman (ertinya):
“Dan jika kalian
mentaatinya nescaya
kalian akan
mendapatkan hidayah.”
(An Nur: 54)
Asy Syaikh
Abdurrahman As Sa’di
rahimahullah berkata:
“Jika kalian
mentaati Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wasallam nescaya
kalian akan
mendapatkan petunjuk
ke jalan yang lurus,
baik ucapan maupun
perbuatan. Dan tidak
ada jalan untuk
mendapatkan hidayah
melainkan dengan
mentaatinya, dan
tanpa (mentaatinya)
tidak mungkin (akan
mendapatkan hidayah)
bahkan mustahil.” (Tafsir
As Sa’di, hal. 521)
5. Mendapatkan Cinta
dari Allah subhanahu
wa ta’ala dan akan
masuk Al Jannah (syurga)
Para pembaca yang
mulia, bukankah kita
semua ingin
mendapatkan cinta
dari Allah?
Ketahuilah! Bahawa
cinta dari Allah
subhanahu wa ta’ala
hanya akan diperoleh
dengan mengikuti dan
mentaati Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wasallam.
Sebagaimana firman
Allah subhanahu wa
ta’ala (artinya):
“Katakanlah (wahai
Muhammad!): “Jika
kalian mencintai
Allah, maka ikutilah
aku! Nescaya Allah
pasti akan mencintai
kalian dan
mengampuni dosa-dosa
kalian.” (Ali Imran:
31)
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wasallam juga
bersabda: “Setiap
umatku akan masuk Al
Jannah (surga)
kecuali orang yang
enggan.” Para
shahabat bertanya:
“Siapakah orang yang
enggan itu wahai
Rasulullah?” Beliau
menjawab:
“Barangsiapa yang
mentaatiku, ia akan
masuk Al Jannah dan
barangsiapa yang
bermaksiat kepadaku,
maka sungguh ia
telah enggan.” (HR.
Al Bukhari)
Wahai saudaraku
sesama muslim!
Sepatutnya bagi kita
semua selalu
berupaya dengan
sungguh-sungguh
untuk menyesuaikan
segala amal ibadah
kita dengan tuntunan
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wasallam yang
berdasarkan
dalil-dalil shahih.
Dan kita tidak akan
dapat mengetahuinya
melainkan dengan
belajar ilmu syar’i
(agama).
Penutup
Semoga Allah
subhanahu wa ta’ala
menolong kita untuk
senantiasa
mempelajari ilmu
agama Islam ini yang
bersumber dari Al-Qur’an
dan As-Sunnah sesuai
dengan pemahaman
para shahabat nabi
radhiyallahu ‘anhum
di bawah bimbingan
ulama` pewaris Nabi.
Dan memberikan
kekuatan serta
keistiqomahan dalam
menjalankan sunnah
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi
wasallam agar
tergapai kemuliaan
hidup yang hakiki di
dunia maupun akhirat.
Amin Ya Rabbal
‘Alamin.
