Tazkirah

Apakah Kewajiban Orang Yang Sakit Tenat?

Ustaz Dr. Abdullah Yasin

 
عَنْ أُمّ الْفَضْلِ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهِمْ وَعَبَّاسُ عَمُّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشْتَكِى فَتَمَنَّى عَبَّاسُ الْمَوْتَ ، فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
يَا عَبَّاسُ ، يَا عَمَّ رَسُوْلِ اللهِ ، لاَ تَتَمَنَّ الْمَوُةَ ، فَإِنَّكَ إِنْ كُنْتَ مُحْسِنًا ، فَأَنْ تُؤَخَّرَ تَزْدَادُ إِحْسَانًا إِلَى إِحْسَانِكَ خَيْرٌلَكَ ، وَإِنْ كُنْتَ مُسِيْئًا فَأَنْ تُؤَخَّرَ فَتَسْتَعْتِبُ مِنْ إِسَاءَتِكَ خَيْرٌلَكَ ، فَلاَ تَتَمَنَّ الْمَوْتَ.  
 
 
Terjemahan:
 
Dari Ummu Fadhal Radhiallahu ‘Anhaa katanya: Sesungguhnya Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) masuk kepada mereka dan Abbas paman Rasulullah ketika itu sedang merintih kesakitan. Dan Abbas (ra) meminta supaya lekas dimatikan, lalu baginda Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) bersabda kepadanya:
 
“Wahai Abbas, wahai paman Rasulullah, janganlah bercita-cita untuk mati karena sekiranya paman seorang yang baik, maka penangguhan ajal untuk menambah kebaikan adalah lebih baik bagimu, dan sekiranya paman orang yang jahat, maka penangguhannya untuk memohon ampunan terhadap kesalahan paman juga adalah lebih baik bagimu, oleh itu janganlah paman bercita-cita untuk mati”
 
[HR Ahmad dan Al-Hakim – Sahih dengan syarat Muslim]
 
 
 
Mukaddimah:
 
Islam bukan hanya agama ibadah. Dia adalah cara hidup. Islam telah mengatur urusan manusia dengan lengkap, sejak daripada perkara besar hingga perkara yang sekecil-kecilnya. Agama Islam telah menggariskan beberapa panduan dan bimbingan apakah yang mesti kita lakukan atau bagaimanakah sikap kita jika berhadapan dengan sakit, lebih-lebih lagi jika sakit yang agak berat.
 
Berikut ini kita bawakan beberapa bimbingan agama yang mesti diikuti oleh setiap mukmin jika mereka mengalami sakit yang berat, antaranya:
 
 
1.      Redha Dan Sabar
 
Pesakit hendaklah redha dengan takdir Allah yang menimpanya dan sabar menghadapinya serta berbaik sangka terhadap Allah SWT dan yang demikian itu adalah lebih baik baginya. Sabda Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam):
 
“Sungguh mena’jubkan urusan orang yang beriman, semua urusannya adalah baik belaka. Sikap demikian tidak siapapun yang memilikinya kecuali orang yang beriman. Sekiranya ia mendapat kesenangan, lalu ia bersyukur, maka sikap yang demikian itu baik baginya, dan jika ditimpa kesusahan, lalu ia bersabar, maka sikap yang demikian itu juga baik baginya. Dan jangan hendaknya mati salah seorang dari kamu melainkan ia berbaik sangka terhadap Allah”.
 
[HR Ahmad, Al-Baihaqy dan Imam Ahmad]
 
 
 
2.      Harap Dan Takut:
 
Pesakit hendaklah mempunyai perasaan ketika itu antara harap (raja’) dan takut (khauf). Takut akan azab Allah karena dosa-dosanya dan harap akan rahmat Allah. Ini berdasarkan riwayat:
 
Sesungguhnya Nabi (sallallahu alaihi wasalam) masuk pada seorang lelaki yang sedang sakit tenat, lalu baginda bertanya: Bagaimanakah perasaanmu? Lelaki tersebut menjawab: Demi Allah, ya Rasulullah, sesungguhnya aku sangat mengharap (rahmat) Allah dan aku juga takut (azab) karena dosa-dosaku. Mendengar itu lalu Rasul (sallallahu alaihi wasalam) bersabda:
 
“Tidaklah berkumpul kedua-duanya (harap dan takut) dalam hati seseorang hamba pada keadaan seperti ini, melainkan Allah akan berikan apa yang diharapkannya dan Allah akan tenteramkan (amankan) dia dari apa yang dia takuti”.
 
[Hadis Hasan Riwayat Tarmidzi dan Ibnu Majah]
 
 
 
3.      Jangan Bercita-cita Untuk Mati:
 
Pesakit dilarang bercita-cita untuk mati, walaupun bagaimana kuat sakitnya. Ini berdasarkan hadis Ummu Fadhal (ra) bahwa baginda Rasul (sallallahu alaihi wasalam) masuk pada mereka, sedangkan Abbas paman Nabi (sallallahu alaihi wasalam) sedang sakit kuat. Abbas ketika itu mengharapkan untuk lekas mati, lalu baginda Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) bersabda kepadanya:
 
“Wahai Abbas, wahai paman Rasulullah, janganlah bercita-cita untuk mati, karena sekiranya paman orang yang baik, maka dilambatkan kematian dapat menambah lagi kebaikan bagi paman, dan itu adalah lebih baik bagi paman. Dan jika paman orang yang tidak baik, dilambatkan kematian membolehkan paman memohon ampunan terhadap keburukan tersebut, itu juga adalah lebih baik bagi paman dan janganlah sekali-kali bercita-cita untuk mati”.
 
[Hadis Sahih Riwayat Al-Hakim]
 
 
 
4.      Mengembalikan Hak Orang Lain:
 
Jika ada hak orang lain padanya maka hendaklah ia segera mengembalikan hak-hak tersebut kepada yang empunya. Sekiranya ia tidak dapat berbuat demikian maka hendaklah ia meninggalkan wasiat. Ini sesuai dengan anjuran Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam):
 
“Barangsiapa yang padanya ada hak saudaranya (seagama), samada yang berkaitan dengan kehormatan ataupun harta, maka hendaklah ia segera melunasinya sebelum datang Hari Kiamat (yang pada waktu itu) tidak lagi berguna dinar dan dirham. (Ketika itu) Sekiranya ia memiliki amal saleh maka akan diambil daripadanya amal salehnya itu dan diberikan kepada saudaranya, dan sekiranya ia tidak memilih amal saleh, maka akn diambil dosa saudaranya itu dan selanjutnya dipikulkan ke atasnya”.
 
[Hadis Riwayat Bukhari dan Al-Baihaqy]
 
 
 
5.      Meninggalkan Wasiat:
 
Jika pesakit orang yang banyak harta maka ia dianjurkan sangat suapay meninggalkan wasiat untuk kaum kerabatnya yang tidak berhak menerima harta pusaka. Dan wasiat tersebut tidak boleh melebihi sepertiga harta pusaka. Ini berdasarkan sabda Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam):
 
“Sesungguhnya Allah memberikan hak kepada masing-masing orang yang berhak menerimanya, oleh sebab itu tidak ada wasiat bagi ahli waris”.
 
[HR Abu Daud dan Tarmidzi]
 
 
 
6.      Wasiat Hendaklah Disaksikan:
 
Wasiat tersebut hendaklah disaksikan oleh dua muslim yang adil. Sekiranya mereka tidak dapat diperolehi, maka bolehlah disaksikan oleh dua orang bukan muslim yang dapat dipercayai penyaksian mereka. Ini berdasarkan firman Allah:
 
“Hai orang-orang yang beriman, jika salah seorang daripada kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang saksi yang adil di antara kamu, atau orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian…”
 
(Al-Maidah 5:106)
 
 
 
7.      Jangan Ada Mudharat Dalam Wasiat:
 
Haram berbuat mudharat dalam wasiat seperti mengharamkan sebahagian ahli waris daripada mendapatkan pembahagian harta pusaka atau melebihkan sebahagian mereka daripada sebahagian yang lain dalam pembahagian pusaka. Ini berdasarkan firman Allah:
 
“…sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris)”.
 
(An-Nisaa’ 4:12)
 
 
Dan wasiat yang mengandungi unsur-unsur penganiyaan (zalim) adalah batil dan ditolak tidak wajib dilaksanakan.
 
 
 
8.      Menyempurnakan Jenazah Mengikuti Sunnah:
 
Karena pada akhir zaman ini sungguh banyak perkara bid’ah dalam urusan agama berlaku dalam masyarakat, termasuk juga yang bersangkutan dengan penyelenggaraan jenazah, maka sudah sewajarnyalah seorang muslim yang sedang sakit supaya berwasiat agar penyelenggaraan jenazahnya dilakukan mengikuti sunnah Nabi (sallallahu alaihi wasalam). Ini berdasarkan keumuman firman Allah:
 
“Hai orang-orang uang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”.
 
(At-Tahrim 66:6)
 
 
Berdasarkan ketentuan inilah maka sahabat-sahabat Nabi (sallallahu alaihi wasalam) berwasiat demikian. Riwayat tentang hal ini sangat banyak, antaranya:
 
Daripada Abi Burdah, katanya: Telah berwasiat Abu Musa (ra) ketika beliau sedang sakaratul maut, katanya:
 
“Apabila kamu mengusung jenazahku nanti, berjalanlah dengan cepat dan jangan kamu ikuti jenazahku dengan dua dupa (asapan) dan janganlah kamu batasi antara aku dengan tanah dan janganlah kamu bena bangunan di atas kuburanku. Aku bersaksi kepada kamu bahwa aku berlepas diri daripada Haaliqah (orang yang membotakkan kepalanya sebagai tanda kesedihan), Saaliqah (orang yang menjerit-jerit ketika ditimpa musibah kematian) dan Khaariqah (orang yang mengoyak-ngoyakkan baju karena ditimpa musibah kematian). Lalu keluarganya bertanya: (Adakah) engkau pernah mendengar tentang perkara ini? Jawabnya: Memang benar (aku pernah mendengarnya) dari Rasul (sallallahu alaihi wasalam)”.
 
[HR Imam Ahmad dan Al-Baihaqy]
 
 
Imam An-Nawawy berkata dalam kitabnya “Al-Azkaar”:
 
“Disunatkan sangat (sunnat muakkadah) dia berwasiat agar keluarganya menjauhi segala adat istiadat bid’ah apabila mereka menyelenggarakan jenazahnya”.
 
 
 
Kesimpulan:
 
1.         Islam adalah peraturan hidup (Nizamul Hayat). Dia telah mengatur segala-galanya. Termasuk apa yang mesti kita buat ketika sedang sakit tenat.
 
2.         Manusia terbagi kepada empat golongan jika ditimpa musibah iaitu:
 
i.         Tasakhkhuth (kesal dan murka)
ii.       Sabar (tabah)
iii.      Redha (rela hati pada takdir)
iv.     Syukur (berterima kasih kepada Allah karena dengan musibah itu bermakna Allah sayang kepadanya dan mengampuni dosa-dosanya).
 
 
3.         Kematian bukan akhir segala-galanya tetapi hanya sekedar perpindahan daripada alam amal kepada alam pembalasan. Oleh itu perbanyakkanlah bekal sebelum ajal tiba. Dan bekal yang paling elok adalah TAQWA kepada Allah.

 

BACK

Segala komentar boleh dihantar terus kepada alamat e-mail di bawah
Rekabentuk dan Isi Kandungan oleh webmaster@eonbank.com.my

 

 

Muka Depan
AJK Surau
Waktu Solat
Tazkirah

Soal Jawab Agama

 

Pautan Internet
IslamOnline
IslamQ&A
al-Ahkam.net
Darul Kauthar

Read The Al-Quran

Panduan Solat

Laman 'Arab
al-Qaradhawi
al-albani.net
Binbaz.org