Bukti-bukti Cinta Kepada
Rasulullah
Ust Dr Abdullah Yasin
قَالَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ يُوْمِنُ
أَحَدُكُمْ حَتَّى اَكُوْنَ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ
وَوَلِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ
Tidak (sempurna)
iman salah seorang kamu sehingga aku lebih dicintai dari
orang tuanya, anaknya dan semua manusia lainnya.
(HR Bukhari dan Muslim)
Syarah Al-Hadis:
Hadis di atas adalah
bukti yang amat jelas tentang kewajipan kita mencintai
Rasulullah (sallallahu alayhi wasalam). Malahan iman
seseorang belum digolongkan sebagai iman yang sempurna
sehingga baginda Rasulullah (sallallahu alayhi wasalam)
lebih dia cintai melebihi cintanya kepada kedua ibubapanya,
anak-anaknya dan semua manusia lain.
Penggunaan istilah
أَحَبُّ
))
iaitu (lebih mencintai) di dalam hadis di atas
mengisyaratkan bahwa cinta kepada Rasulullah (sallallahu
alayhi wasalam) yang dimaksud bukanlah sekedar cinta tetapi
mestilah cinta yang mengatasi atau melebihi daripada
cintanya kepada yang lain. Jika cintanya tidak sampai ke
tahap itu berarti imannya belum sempurna.
Dan di dalam hadis di
atas khusus disebut tentang ibubapa dan anak-anak, karena
kedua jenis manusia inilah yang paling dikasihi olih
seseorang. Bahkan terkadang-kadang kedua-duanya lebih
dikasihi dari dirinya sendiri.
Ini menunjukkan betapa
seorang mukmin dituntut mengasihi baginda Rasulullah (sallallahu
alayhi wasalam) hatta terhadap dirinya sendiri. Ini
sebagaimana tegoran Rasulullah (sallallahu alayhi wasalam)
terhadap Omar Al-Khattab (ra) yang berkata:
Ya
Rasulullah,sesungguhnya tuan adalah orang yang paling saya
kasihi mengatasi segala-galanya kecuali terhadap diri saya
sendiri.
Mendengar kata-kata
itu, lalu baginda pun bersabda:
Tidak, demi diriku
di tanganNya, sehingga aku lebih engkau cintai dari dirimu
sendiri
Lalu Omar menjawab:
Sesungguhnya sekarang, demi Allah, tuan adalah orang yang
paling saya kasihi walaupun terhadap diri saya sendiri.
Dan mendengar
kenyataan itu bagindapun bersabda: Sekarang (barulah
sempurna imanmu hai Omar.
[HR Bukhari]
Makna Cinta
Kepada Rasul (sallallahu alayhi wasalam).
Cinta kepada Rasulullah
(sallallahu alayhi wasalam) maknanya kecenderungan hati
seorang muslim kepada Rasulullah (sallallahu alayhi wasalam)
yang kesannya mengatasi cintanya kepada segala-galanya
samada terhadap dirinya, ibubapanya, anak-anaknya dan semua
manusia lain.
Faktor-faktor
Pendorong Mencintai Rasul.
Sungguh banyak faktor
pendorong sehingga hati kita terpikat mencintai baginda
Rasulullah (sallallahu alayhi wasalam), antara lain:
(1)
Karena cinta seorang muslim kepada baginda (sallallahu
alayhi wasalam) adalah follow-up atau
realisasi daripada kecintaannya terhadap Allah SWT. Cinta
kepada Allah adalah asas segala cinta yang disyariatkan.
Kita mestilah mencintai segala yang dicintai Allah seperti
cinta kepada para rasul, para nabi, para malaikat,
hamba-hambaNya yang salih, amal salih, akhlak yang mulia.
Jadi cinta kepada Allah mewajibkan kita agar cinta pula
kepada apa yang dicintaiNya. Allah berfirman di dalam surah
Ali Imran ayat 31:
قُلْ
إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ
اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ
رَّحِيمٌ
Katakanlah: “Jika
kamu (benar-benar) mencintai Allah, (maka) ikutilah aku,
niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.
(Ali Imran 3:31)
(2)
Karena Allah memilih beliau sebagai makhluk yang paling
mulia samada dengan memilihnya sebagai penghulu segala rasul,
menurunkan kepadanya Al-Quran, memuliakannya dengan selawat
dan menganugerahkan kepadanya derjat khullah (khalil) iaitu
derjat yang lebih tinggi daripada mahabbah (cinta). Derjat
ini tidak diberikan olih Allah kecuali untuk Nabi Ibrahim
dan baginda (sallallahu alayhi wasalam). Allah jadikan
beliau sebagai rahmat bagi seluruh alam, Allah memuliakan
beliau dengan memberinya syafaat ‘uzma (pertolongan agung)
di hari kiamat nanti dll.
(3)
Karena kasih sayangnya yang amat sangat terhadap umatnya,
kesungguhannya memberi hidayat dan usaha gigih menyelamatkan
umatnya daripasa kebinasaan. Firman Allah:
لَقَدْ
جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا
عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
Sesungguhnya telah
datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat
terasa olihnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan
dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang
terhadap orang-orang mukmin. (At-Taubah 9:128)
(4)
Karena nasihat dan ihsannya yang luarbiasa terhadap umatnya.
Beliau telah bimbing umatnya supaya melakukan segala bentuk
kebaikan untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah. Dan
beliau juga telah ingatkan mereka dari segala keburukan yang
bolih membawa mereka ke jurang kehinaan di dunia dan azab di
akhirat. Firman Allah:
لَقَدْ
مَنَّ اللّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً
مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ
وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن
قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ
Sesungguh Allah
telah memberi kurnia kepada orang-orang yang beriman ketika
Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan
mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat
Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada
mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan
Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang
nyata. (Ali Imran 164)
(5)
Karena Allah telah khususkan untuk beliau budi pekerti dan
akhlak yang mulia sebagai pembeda antara beliau dengan semua
akhluk yang lain. Allah berfirman:
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
Dan sesungguhnya
kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Al-Qalam
68:4)
Atas sebab inilah maka
para sahabat sangat cinta kepada baginda karena mereka
menyaksikan sendiri betapa mulianya akhlak beliau.
Beberapa Bukti
Cinta Kita Kepada Rasulullah (sallallahu alayhi wasalam)
Walaupun cinta
sebenarnya adalah amalan hati, namun kebenaran cinta
mestilah dibuktikan dalam bentuk nyata, apakah dalam bentuk
ucapan atau perbuatan. Sudah menjadi adat resam bahwa apa
saja dakwaan tidak akan diterima kecuali jika ada buktinya,
sebab jika setiap dakwaan manusia diterima maka akan
musnahlah neraca keadilan dan kebenaran.
Dan selagi dakwaan
cinta kepada Allah, rasulNya dan orang-orang salih tidak
diperlukan pembuktiannya, maka selama itulah berarti kita
memberi laluan kepada puak pelampau membuat bid’ah dan
khurafat sesuka hati mereka di dalam masyarakat kita.
Dan di antara bukti
cinta kita kepada Rasul (sallallahu alayhi wasalam) adalah
seperti berikut:
1.
Patuh kepada baginda dan mengikuti ajarannya.
Kepatuhan seseorang
terhadap ajaran Rasulullah bawa adalah bukti yang paling
kuat menandakan kebenaran cintanya. Tanpa mematuhi ajarannya
membuktikan kepalsuan dakwaan cintanya.
Al-Hasan Al-Basry dan
para salaf berkata: Suatu kaum mendakwa bahwa mereka cinta
kepada Allah, lalu Allah menguji mereka dengan menurunkan
ayat ini (Katakanlah: “Jika benar-benar mencintai Allah,
maka ikutilah aku…) (Ali Imran 31).
2.
Mengagungkan (ta’zim) dan menghormati beliau.
Asas ta’zim kepada nabi
ialah dengan membenarkan segala perkhabarannya, mematuhi
segala suruhannya, menjauhi segala larangannya dan beribadat
kepada Allah dengan cara yang disyariatkannya. Barangsiapa
yang tidak memenuhi asas ta’zim di atas maka rosaklah
ta’zimnya kepada Rasul. Dan ada dua kemungkinan yang dapat
merosakkan ta’zim seseorang kepada Rasulullah, iaitu:
Pertama: Tafrit
maknanya mengurangi hak-hak Rasul seperti meragui kejujuran,
keadilan dan kebenaran yang beliau bawa, meninggalkan
selawat dan salam terhadapnya, menghina sunnahnya dll.
Kedua: Ifrat maknanya
melampaui batas, menyanjung beliau melebihi martabatnya yang
telah ditetapkan olih Allah seperti mendakwa beliau tahu
perkara ghaib secara mutlak, alam ini berasal daripada nur
beliau, beliau telah wujud sebelum wujudnya alam ini dll.
Atas sebab inilah maka
Imam Abdul Hadi Al Muqaddasy membagi ta’sim kepada dua iaitu:
Ta’zim masru’ dan Ta’zim ghairu masyru’.
Ta’zim masyru’ (ta’zim
yang disuruh) iaitu ta’zim atau sanjungan yang disukai olih
orang yang disanjungi. Dia reda dengan sanjungan itu, malah
disuruh berbuat demikian dan mendapat ganjaran bagi orang
yang melakukannya.
Ta’zim ghairu masyru’ (ta’zim
yang dilarang) iaitu ta’zim yang dibenci olih orang yang
disanjung itu, dia murka dan diancam dengan dosa bagi yang
melakukannya. Ini sebenarnya bukan ta’zim tetapi sebenarnya
ghuluw atau ifrat (melampau). Atas sebab inilah golongan
Syiah Rafidhah bukanlah ta’zim kepada Ali Bin Abi Talib
kalau mereka mendakwa bahwa Alu itu tuhan, nabi atau
bersifat maksum dan lain-lain, sebagaimana orang nasrani
bukanlah ta’zim terhadap Isa Bin Maryam kalau mereka sampai
mendakwa Isa itu anak Tuhan. Baginda Rasul (sallallahu
alayhi wasalam) bersabda:
Janganlah kamu
keterlaluan menyanjung aku sebagaimana sanjungan yang
diberikan orang nasrani terhadap Isa anak Maryam,
sesungguhnya aku hambaNya, olih itu panggilan aku Abdullah (hamba
Allah) dan rasulNya (pesuruh Allah).
[HR Bukhari]
Anas Bin Malik berkata
bahwa seorang lelaki (sahabat) berkata kepada Rasulullah (sallallahu
alayhi wasalam): Ya Muhammad, ya penghulu kami, hai anak
penghulu kami, hai orang yang paling baik di antara kami,
hai anak orang yang paling baik di antara kami. Begitu
mendengar sanjungan itu baginda pun bersabda: Hentikanlah
kata-katamu itu, janganlah kamu rela digoda syaitan, saya
adalah Muhammad Bin Abdullah, hamba Allah dan utusanNya,
demi Allah, aku tidak suka kamu mengangkat derjat dan
kedudukanku mengatasi kedudukan yang telah dianugerahkan
olih Allah Azza Wa Jalla kepadaku.
[Hadis ini sanadnya
sahih dengan syarat Muslim]
3.
Banyak mengingatinya, rindu melihat wajahnya
dan ingin sangat bertemu dengannya. Sabda Rasulullah (sallallahu
alayhi wasalam):
Orang yang paling aku
cintai di kalangan umatku ialah orang-orang sesudahku yang
sangat ingin melihat aku (walaupun dengan mengorbankan)
keluarganya dan hartanya. [HR Muslim]
Ibnu Asatir menyatakan
dalam terjemahnya tentang Bilal Bin Rabah bahwa ketika Bilal
akan menghembuskan nafasnya yang terakhir, isterinya sangat
sedih sambil menyebut: Waa Wailaah (alangkah malangnya),
tetapi pada saat itu Bilal sempat berkata: Waa Farhaah (alangkah
gembiranya) karena beliau akan bertemu di alam sana dengan
orang yang paling beliau cintai, iaitu Muhammad dan
rakan-rakannya.
Masih wujudkan perasaan
seperti ini dikalangan umat Islam sekarang? Perasaan ini
telah lenyap dari alam ini kecuali orang-orang yang mendapat
rahmat Allah. Fikiran kebanyakan manusia hari ini dipenuhi
olih sifat ingin berlumba-lumba mengejar kesenangan duniawi
yang murah ini sehingga sedikit sekali yang ingat kepada
Rasulullah, apatah lagi merindui untuk berjumpa dengannya.
Ingat, bahwa setiap
umat akan dibangkit bersama rasul mereka masing-masing saksi
pada Hari BerHisab nanti. Nabi Muhammad akan menjadi saksi
kita. Tidak perlukan kita kepada syafaatnya, wajarkah kita
melupakan orang yang paling berperanan ini?
4.
Mencintai keluarganya, kaum kerabat dan
shabat-sahabatnya.
Bukti cinta kita kepada
keluarganya dan sahabat-sahabatnya ialah dengan menghormati
mereka, mengakui keutamaan mereka, memelihara kehormatan dan
kedudukan mereka serta benci kepada orang-orang yang
membenci atau menghina mereka. Allah SWT reda kepada meeka,
Firman Allah:
وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ
وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ
اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ
تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا
ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Orang-orang yang
terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara
orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang
mengikuti mereka dengan baik, Allah reda kepada mereka dan
mereka pun reda kepada Allah dan Allah menyediakan bagi
mereka syorga-syorga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya,
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan
yang besar. (At-Taubah 9:100)
Baginda memuji
sahabat-sahabatnya, antara lain sabdanya: Sebaik-baik
manusia ialah (manusia yang hidup dalam) kurunku, kemudian
mereka yang mengikutinya, kemudian mereka yang mengikutinya
[HR Bukhari]
5.
Mencintai sunnahnya dan para ulama yang
gigih menyebarkannya.
Orang yang paling teguh
pegangannya dengan sunnah rasul dan gigih berdakwah
menyebarkan sunnah ialah para salaf salih dan pengikut setia
mereka yang sehaluan dalam prinsipnya hingga ke hari ini.
Olih sebab itu kita
mestilah hargai perjuangan ulama masa silam dan menjaga
kehormatan mereka serta beradab kepada mereka dan memaafkan
mereka andaikata terdapat kekeliruan yang tidak disengajakan.
Kita mestilah menilai pendapat mereka dengan pemahaman yang
positif, karena tujuan mereka tidak lain kecuali untuk
menegakkan agama yang benar ini. Ini tidak pula bermakna
kita tidak bolih menjelaskan atau memperbetulkan kekeliruan
mereka. Itu adalah tugas para ulama hingga hari kiamat.
Yang kita maksudkan
ialah kita mestilah berbaik sangka terhadap ulama masa silam
dan bersopan dengan mereka karena merekalah pembawa syariat
ini, kalaulah Allah tidak jadikan mereka sebagai pemikul
tugas ini, barangkali agama ini tidak sampai pada kita.Kalau
mereka orang-orang terdahulu yang baik (salaf salih) marilah
kita menjadi orang-orang akhir zaman yang baik (khalaf salih).
Jangan pula sampai
terjadi: kita ambil manfaat daripada peninggalan atau
warisan mereka, tetapi di saat yang sama kita ingkari
kelebihan mereka atau kita cari-cari kekurangan mereka
sampai akhirnya kita lupakan keutamaan dan jasa baik mereka.
Inilah antara lain sebab utama hilangnya keberkatan agama
dan ilmu dari kita menerima pandangan mereka, kita kasihi
mereka dan kita mohon ampunan kepada Allah untuk mereka.
Beginilah sepatutnya sikap orang mukmin sepanjang zaman.
Firman Allah:
وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا
اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا
بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا
لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
Dan orang-orang
yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka
berdoa: Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan
saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari
kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati
kami terhadap orang-orang yang beriman, ya Tuhan kami,
sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.
(Surah Al-Hasyr 59:10)
Dengan tulisan ini saya
harapkan semoga para jamaah dapat melihat dengan jelas betapa
dustanya dakwaan sesetengah orang yang kononnya mengaku cinta
kepada Rasulullah (sallallahu alayhi wasalam), bermacam-macam
amalan bid’ah mereka buat yang kononnya ingin menyanjung dan
menta’zimkan Nabi (sallallahu alayhi wasalam), padahal Nabi (sallallahu
alayhi wasalam) tidak suka dan sangat benci dengan cara-cara
yang mereka reka-reka itu. Saya doakan semoga kita semua
termasuk ke dalam golongan orang-orang yang cinta kepada baginda
(sallallahu alayhi wasalam) dalam pengertian yang sebenarnya,
AMIN.